KPC Pics

The Port

 

 

The Activity

 

 

The Activity

 

 

One of the two quadrant shiploaders which together can load bulk carriers of up to 180,000dwt at 4,200t/h.

 

Presdir PT Kaltim Prima Coal Noke Kiroyan:

KPC Ingin Bisnis Sebersih Mungkin

JAKARTA – Good corporate governance atau prinsip-prinsip penyelenggaraan perusahaan yang baik masih menjadi slogan bagi banyak perusahaan di Indonesia. Prinsip ini tidak selalu dapat dioperasionalisasikan dalam aktivitas sehari-hari perusahaan. Dibutuhkan panduan (guidelines) yang jelas dan dimengerti oleh semua tingkatan di perusahaan, mulai dari jajaran managerial hingga bawahan.

Dalam hal implementasi good corporate governance itu, PT Kaltim Prima Coal (KPC) -perusahaan batu bara yang beroperasi di Sangatta, Kutai Timur, Kalimantan Timur, selangkah lebih maju dengan telah menerbitkan kode etik atau code of conduct yang berlaku untuk semua karyawan.
Prinsip good corporate governance dan kode etik itulah yang kini sedang digulirkan oleh Noke Kiroyan, Presiden Direktur PT Kaltim Prima Coal.

Kode etik tersebut mencakup banyak hal yang patut diperhatikan oleh karyawan dan juga menyangkut sanksi-sanksi. Contohnya, jika ada bisnis dari karyawan yang tidak ada kaitannya dengan perusahaan, maka karyawan harus mengumumkannya atau men-declare. Komisi yang ada di perusahaan yang akan memutuskan apakah dapat menerima bisnis tersebut atau tidak.

Noke mengakui hal tersebut tidak mudah dilakukan. Untuk menerapkan good corporate governance, terkadang perusahaan harus bersikap fleksibel terhadap situasi setempat. Soal suap atau bribing misalnya. Keadaan Indonesia tidak serta merta bisa disamakan dengan negara maju di mana kadang-kadang tidak jelas batasan antara memfasilitasi dengan menyuap (bribing).

“Kalau kita ketat memakai aturan yang berlaku di negara maju dan ekonominya sudah mantap, membayari tiket pesawat pun tidak boleh. Tetapi kita tidak bisa begitu. Banyak yang kita sesuaikan dengan situasi lokal. Tetapi prinsipnya kita tetap ingin menjalankan bisnis dengan sebersih mungkin,” katanya.

Kepada karyawan pria kelahiran 13 September 1946 ini menekankan betul untuk melaksanakan tugas dengan bersih. Kepada karyawan, KPC memberi hak untuk berpolitik. Namun perusahaan tidak membenarkan jika ada karyawan yang juga aktif di bidang politik sebagai pimpinan organisasi atau partai politik. Karena hal itu dinilai akan menimbulkan konflik kepentingan (conflict of interest).

Declare

emua hal yang dilarang tersebut ada dalam satu panduan atau guidelines yang dapat dioperasionalkan. Kode etik perlu penjabaran dan kemudian disosialisasikan kepada seluruh karyawan. Dengan cara itu pulalah manajemen KPC dapat mewujudkan transparansi.

Meski hal itu belum lama diterapkan, namun menurut Noke sudah ada kesadaran dari karyawan. Sudah ada karyawan yang men-declare, bahkan ada yang mengundurkan diri karena merasa telah melakukan pelanggaran. Dan semua itu dilakukan dengan kesadaran sendiri. Noke berpendapat kode etik tersebut berlaku untuk semua karyawan. Saat ini karyawan langsung KPC berjumlah 3.000, ditambah 3.500 pegawai kontraktor.

“Saya berprinsip, apa yang saya minta dari bawahan juga saya lakukan. Tidak bisa ke bawah tetapi di sini ada pengecualiaan. Itu tidak benar,” katanya.

Visi menjalankan bisnis sebersih mungkin itu juga ia bawakan dalam berhubungan dengan pemerintah daerah. Kerja sama antara KPC dan Pemda tetap tidak melupakan beberapa hal yang menjadi prinsip masing-masing pihak.
Sejauh ini kata Noke, masukan atau feedback yang diterima kebanyakan sangat antusias menerima kode etik dan good corporate governance itu. Karyawan merasakan bahwa itu satu hal yang perlu. Jika korupsi terjadi di perusahaan seperti KPC dan dibiarkan saja tanpa ada tindakan pembenahan, maka akan membuat orang menjadi sinis terhadap KPC. Karenanya penting untuk disadari bahwa pembenahan itu harus dilakukan secara konsisten untuk semua karyawan dan direksi.

Itu semua jelas membutuhkan dukungan internal. Kiat inilah yang dilakukannya yakni rutin bertemu dengan karyawan, menjelaskan program perusahaan secara terbuka. Hasilnya, dukungan mengalir deras kepadanya.
“Bagaimana kita mau membawa organisasi itu ke suatu arah tanpa kita mengkomunikasikannya. Itu tidak mungkin. Jadi komunikasi adalah salah satu unsur utama dari kepemimpinan,” katanya.

Ia secara periodik mengadakan pertemuan dengan manajemen level terbawah, termasuk dengan serikat buruh. Dengan serikat buruh ia bertemu setiap tiga bulan.
Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang tambang batu bara, maka faktor keamanan atau safety menjadi pertimbangan utama. KPC mengoperasikan armada tambang yang terbesar di dunia dengan truk berbobot ratusan ton sebanyak 150 unit. Hal ini dikarenakan kondisi geologis yang kurang menunjang. Singkatnya, dengan begitu banyak peralatan berat dan dengan sumber daya manusia (SDM) yang tidak kalah banyaknya, kalau tidak berhati-hati akan menimbulkan benturan.

Inilah yang ditekankan betul oleh pemegang saham (shareholder) yakni “BP”, sebuah perusahaan asing, dan Rio Tinto. “Jadi kalau sampai terjadi kecelakaan yang memakan korban jiwa maka saya sendiri langsung harus bertanggung jawab kepada pemegang saham dan memberi laporan lengkap,” imbuh Noke. Ia juga harus siap dengan rencana (plan) preventif. Semuanya berangkat dari pemikiran bahwa nyawa setiap manusia itu adalah sangat berharga.

Sertifikat Emas

Good corporate governance juga mencakup pengelolaan lingkungan yang baik. KPC sepenuhnya sadar akan arti pentingnya lingkungan (environtment) bagi keberlangsungan usaha. Lingkungan harus tetap terpelihara dengan baik. Noke bangga bersama-sama KPC berhasil menyabet sertifikat emas tiga tahun berturut-turut (2000-2002) untuk pengelolaan lingkungan dari Gubernur Kalimantan Timur.

Baru KPC yang tiga tahun berturut-turut mendapatkan emas. Ini mungkin satu tolok ukur bahwa kita serius dalam pengelolaan lingkungan,” ujarnya. Termasuk juga dalam program Community Development, KPC selalu melibatkan pemda dan pemuka masyarakat serta memberi kontribusi yang besar bagi daerah. Dana sebesar Rp 15 miliar disediakan untuk tahun 2002 dan masuk ke dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Kutai Timur.

PT KPC dimiliki oleh dua pihak yakni “BP” dan Rio Tinto dengan bagian yang sama besar. Omset KPC bernilai hampir US$ 500 juta. Dengan produksi tahun 2001 yang berjumlah 15,6 juta ton, keuntungan bersih setelah dikurangi pajak kira-kira US$ 95 juta.

Seluruh produksi KPC diekspor, dengan tujuan utama negara-negara yang tergolong Macan Asia (Asian Tigers) seperti Jepang, Taiwan, Hong Kong, sebagian ke Eropa dan Amerika Serikat.

Indonesia sendiri pada tahun 2001 mengekspor batu bara sebanyak 65 juta ton dari total produksi dalam negeri 90 juta ton.

Dalam kontrak karya yang ditandatangani tahun 1982, KPC menyepakati, setelah 10 tahun beroperasi pihaknya akan memberikan bagian 45 persen dari pendapatan kotor perusahaan kepada negara dalam bentuk pajak.

Sejauh ini selain pajak kepada pemerintah, KPC juga memberi kontribusi bagi daerah. Studi yang dilakukan Lembaga Penelitian Ekonomi Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia baru-baru ini memperlihatkan bahwa 74 persen dari pendapatan daerah Kabupaten Kutai Timur berasal dari sektor pertambangan batu bara. Dari pendapatan tersebut, 75 persen berasal dari KPC di samping bagian dari royalti yang dibayarkan ke pemerintah pusat dan kembali ke daerah. KPC selama ini telah membawa multiplier effect dengan menciptakan tidak kurang dari 71.000 kesempatan kerja di Kutai Timur, termasuk 6500 yang bekerja langsung..

Kompetitif

oke menegaskan yang terpenting adalah memposisikan Indonesia di tengah pasar internasional. Ia mencontohkan Cina yang mampu menjadi eksportir kedua terbesar di dunia dengan tingkat produksi mencapai 1 miliar ton tahun 2001. Padahal lima tahun lalu negara itu belum terdengar gaungnya di pasar internasional.

Hal itu karena pemerintah Cina menempuh kebijakan (policy) untuk mendapatkan devisa. Semua jalur logistik diperlancar. Karena kebanyakan tambang di sana berada di tengah daratan yang jauh dari laut, maka jalur kereta api diperbaiki sehingga masalah pengangkutan bisa diatasi. Dan pelabuhan ditingkatkan efisiensinya.

Bagaimana dengan Indonesia? Sejauh ini belum banyak pihak asing yang berinvestasi dalam bidang batu bara di Indonesia.

Menghilangkan masalah

Sepertinya pemerintah kita tidak punya kebijakan untuk memperlancar ekspor batu bara dan menghilangkan masalah transportasi. Padahal cadangan batu bara kita besar. Kalau semua dilakukan dengan baik mungkin kita bisa lipat gandakan produksi. Dalam lima tahun bukan mustahil meningkat 100-200 persen,” ujar lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pajajaran, Bandung, itu dengan yakin.
Kepada pemerintah, KPC tidak berharap banyak. Cukup dengan menciptakan suasana dan iklim investasi yang baik, serta menyusun Undang-Undang Pertambangan baru.
Diakuinya, penyelesaian kasus divestasi saham 51 persen milik KPC tadinya mendapat sorotan tajam dari investor internasional. Kalau KPC tidak diselesaikan dengan mengacu pada kontrak yang ada, akan mengurangi minat investasi asing. Beruntung pemerintah cepat tanggap. Namun UU Pertambangan tetap diperlukan untuk menarik investor.
Indonesia menurut dia harus kompetitif. Selama ini Indonesia lebih banyak melihat ke dalam (inward looking) tetapi lupa bahwa dunia luas dan banyak tempat lain yang juga memiliki mineral. Mengingat investasi di sektor tambang sangat mahal dan lama, maka investor harus punya napas panjang. Tanpa kejelasan dari Undang-Undang, para investor tidak akan bisa menunjukkan komitmen mereka untuk berusaha di Indonesia.

“Sekarang ini investasi di bidang pertambangan sebagian besar larinya ke Amerika Selatan. Karena di sana dianggap- meski kedengarannya ironis- kepastian hukumnya lebih besar dari Indonesia,” ujarnya.
(Sinar Harapan/rudy victor sinaga)

www.sinarharapan.co.id/ceo/2002/102/ceo1.html

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


%d bloggers like this: